Telah dibaca: 997
Pandemi bisa membuat frustasi. Keluar dengan cemas, tidak keluar dan gugup karena tidak banyak bertemu orang lain. Piknik menjadi salah satu agenda yang jelas-jelas hilang di masa pandemi.
Ada banyak cara yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kewarasannya di masa pandemi. Mulai dari lebih sering berdoa, tiba-tiba punya hobi, teringat membaca buku, menyempatkan diri berolahraga, hingga bermeditasi.
Namun, piknik masih menjadi sesuatu yang terasa rindu. Tidak mengherankan jika banyak orang menjadikan “tujuan” pertama mereka untuk diwujudkan setelah situasi pandemi mereda dan memungkinkan untuk mewujudkannya.
Dari sekian banyak destinasi piknik, destinasi domestik masih menjadi pilihan utama. Hal ini setidaknya tercermin dari riset StratX yang dilakukan pada pertengahan Juli 2021.
Pilihannya berkisar dari yang umum tanpa menyebutkan lokasi piknik impian Anda hingga yang spesifik seperti piknik di pantai.
Dari 102 responden, 73 persen memilih piknik di rumah. Bali, Malang dan Yogyakarta, masih ada pikiran teratas. Namun destinasi lain seperti Lombok dan Banyuwangi masih disebutkan di urutan teratas.
Kabar baiknya, responden masih terbuka untuk mencoba piknik di tempat baru. Syaratnya, ada referensi dan informasi yang bisa meyakinkan mereka untuk melakukan hal tersebut.
Media massa on line Ternyata masih menjadi rujukan utama para pencari lokasi piknik pascapandemi, setelah Instagram dan YouTube.
5 Wawasan Perjalanan yang Diperoleh dari Pandemi
Belum ada tanda-tanda pasti pandemi akan segera berakhir. Namun memperbaiki keadaan dan menjaga harapan merupakan dua hal yang harus dilakukan secara paralel.
Perbaikan situasi tersebut antara lain dengan membatasi aktivitas untuk sementara waktu dan menegakkan disiplin protokol kesehatan. Hal ini juga diikuti dengan peningkatan standar kebersihan dan kesehatan agar kita tidak ketinggalan menjadi penyebar dan lokasi penyebaran epidemi.
Bersih-bersih di tengah pandemi juga bisa dimaknai sebagai upaya menjaga harapan. Ibaratnya kita diberi waktu istirahat untuk itu karena toh kita tidak bisa melakukan banyak hal lainnya.
Ada lima wawasan bagi dinamika dunia pariwisata guna menjaga harapan pandemi akan berakhir pada waktunya:
1. Wisata jarak pendek
Wisata jarak pendek digadang-gadang akan menjadi prioritas masyarakat untuk berlibur. Masyarakat tidak berani mengambil risiko besar secara langsung. Staycation juga bisa menjadi alternatif.
2. Surga yang tersembunyi
Salah satu aturan protokol kesehatan yaitu menjaga jarak aman diprediksi akan menjadi kebiasaan baru masyarakat, termasuk saat hari raya.
Bisa dibaca juga akan terjadi perubahan paradigma dalam menentukan destinasi wisata. Pariwisata yang dapat menjamin jarak aman antar sesama wisatawan akan berpeluang lebih besar untuk dikunjungi. Permata tersembunyi mempunyai peluang lebih besar.
3. Protokol kesehatan yang ketat
Poin ini merupakan salah satu perubahan yang cukup signifikan. Kondisi kesehatan menjadi syarat awal seseorang untuk dapat melakukan perjalanan, termasuk saat menggunakan transportasi umum.
Kemudahan akses untuk memeriksa kondisi kesehatan sudah menjadi suatu kebutuhan, baik di tempat asal maupun di tempat tujuan, termasuk destinasi wisata.

